PT.PRABANGKARANEWS MEDIA GROUP

6/recent/ticker-posts

Diterbitkan Oleh:
PT. Prabangkaranews Media Group
Ham: AHU-0011378.AH.01.01.2020
Daftar Perseroan
AHU-0037226.AH.01.11.2020
NPWP: 94.459.273.2-647.000

Kethek Ogleng Pacitan Menagih Janji Untuk Jadi Salah Satu Ikon Budaya Pacitan


Oleh: Agoes Hendriyanto

Secara legal formal Kethek Ogleng sudah layak ditetapkan sebagai salah satu ikon budaya Pacitan.  Mungkin saat pandemi Covid-19 semua energi tercurah pada penanganan Covid-19, yang sampai hari ini masih terjadi penambahan kasus baru. 


Mudah-mudahan dengan new normal berlahan tapi pasti salah satu seni pertunjukan Pacitan yang telah  ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2019.  Pengakuan secara nasional sebagai salah satu warisan budaya nasional.  Hal ini bukan omong kosong.  Untuk mendapatkannya tidak mudah harus ada kajian ilmiahnya minimal 2 artikel ilmiah yang terbit di jurnal nasional.  Selain itu video seni pertunjukan kethek ogleng. 


Simak Juga : 


https://www.youtube.com/results?search_query=agoeshendriyanto+kethek+ogleng



Sebagai bentuk pengakuan secara nasional identitas Kethek Ogleng Pacitan sebagai warisan budaya Asli Pacitan yang telah berusia 50 tahun ke atas, dengan nomor registrasi 201900988 (1)

 

Dengan ditetapkannya Kethek Ogleng Pacitan sebagai warisan budaya takbenda, Pacitan kini memiliki dua budaya yang masuk kategori warisan budaya takbenda nasional (1)


Saat pandemi Covid-19, suasana
desa pada siang hari ini puasa memasuki hari ke 26, yang baru berlalu.   Tak terasa hari keasrian wilayah pegunungan dengan suhu yang sejuk dengan hembusan angin yang semilir mambawa kita terhanyut dalam lautan mimpi.  Sejuta rasa terpancar dari aura pagi tak seperti satu tahun lalu spbelum pandemik Covid-19. 

Penari Kethek Ogleng berhenti untuk mnecari rejeki.  Banyak hajatan yang dibatalkan semenjak pandemic Covid-19.  Ah satu tahun lalu begitu bergairah untuk terus mengembangkan Kethek Ogleng untuk jadi salah satu ikon Pacitan.  “Mungkinkah ada asa setelah pandemic Covid-19 ? Ataukah akan kembali lagi dengan perjuangan seperti saat awal tahun 2018.  Ramadhan 1441 H semoga doa kita dikabulkan oleh Allah SWT Kethek Ogleng akan terus berkembang. Beiji Park, sebuah Perusahaan wisata di Pacitan yang mengelola kawasan wisata Beiji Park, menghubungi pengelola sanggar Condro Wanoro di Tokawi untuk tampil dalam pembukaan New Normal Kawasan Wisata Beiji Park, tanggal 3 Juli 2020.  Semoga menjadi awal pertunjukan Kethek Ogleng Pacitan di era New Normal.


00

Sebuah Desa di salah satu Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.  Keasrian desa membentuk karakter penduduk lebih menyukai suasana nyaman dengan suasana kebatinan senang gembira.

Perasaan saling membantu dan gotong royong menjadi modal untuk saling menguatkan saat pandemic Covid-19.  Hilangkan rasa dendam dalam hati.  Hilangkan rasa iri, dengki yang membuat kita saling membenci. Ramadhan begitu terasa saat sepeda motor butut menuntunku menuju rumah maestro Kethek Ogleng.  Jalan terjal penuh berliku akhirnya sampai pada tujuan.

Ibarat jaman kini yang sudah banyak dimasuki oleh semua iluminasi dan simulasi.  Ah terbayang sebuah khayalan pada masa lalu yang ingin kukorek dari Sutiman yang pencipta Kethek Ogleng.

Sambil menikmati kesejukan siang hari, setalah menempuh jalan bebatuan, yang mengocok isi perut yang hari ini memasuki puasa Ramadan hari ke 25 memberitahukan kepada Sutiman bahwa kethek Ogleng Pacitan telah mendapatkan Hak Cipta. “Pencipta  Sutiman, sambil menyerahkan Hak Cipta”.  Hak cipta Gerakan Pokok Kethek Ogleng dengan Nomor Pencatatan 000144781 yang diterbitkan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (2)

Siang ini dalam  angin, Sutiman melanjutkan ceritanya, ““Saat itu aku berumur 18 tahun, pemuda desa dengan kemauan yang luar biasa. Ispirasi suatu ketika saat berada di Kebun melihat Kera atau Monyet bercengkerama dengan meliuk-liuk dari satu pohon ke pohon lainnya. 

“Kelincahan dan kepaduan gerak begitu mempesona, “ Sutiman remaja sangat terhibur kala itu.

Seperti dalam artikel nilai kecerdasan ekologis dalam Tari Kethek Ogleng pacitan seperti berikut,” Kethek Ogleng is a unique factor that shapes the aesthetics of language learning. Unfortunately, the relation between Kethek Ogleng and language learning draws only a little attention. To reveal the phenomenon, the present qualitative descriptive study was performed by investigating Indonesian language learning based on Kethek Ogleng dance. The indicators of the success of this approach can be seen in the changes of attitude and behavior of students in environmental management, covering clean and healthy classrooms and toilets, the use of recyclable materials, water and electricity conservation in the classroom, protection of trees and plants around the classrooms, proper treatment of trash, and organic and inorganic waste utilization.  (3)

Kecerdasan ekologis dalam tari Kethek Ogleng sangat membantu Sutiman untuk menciptakan tari Kethek Ogleng agar mirip dengan kera yang sedang bermain,  Asyik dan menghibur.  Sutiman melanjutkan cerita awal mula merintis Kethek Ogleng dengan ahanya bermodalkan tekad.  Terkadang banyak yang saya dianggap Gila. 

Pandemic Covid-19 menghentikan aktivitas Kethek Ogleng untuk terus berbuat sesuatu menghibur dan jadi kebanggaan Pacitan.  “Pandemic Covid-19 yang dicitrakan oleh media massa sebagai hal yang menakutkan, hal yang membunuh, hal yang sangat dahsyat, akhirnya masyarakat terbawa dengan ketidaknyamanan.  Lebih banyak mana orang yang meninggal akibat pandemic Covid-19 dengan orang yang tidak bisa makan disebabkan pencitraan Covid-19 yang begitu mengerikan.

Menurut Pierce, CITRA atau IMAGE, yaitu tanda yang secara langsung bersifat ikonis, yang menampilkan secara simpel seperti pada gambar dan karya seni rupa, atau dalam bahasa, ketika menemukan kata-kata onomatope, seperti mengeong, mendengkur, mengembik.  Ibaratkan bahwa Covid-19 seperti monster sangat menakutkan.  Sehingga citra tersebut pada awal dibangun sedemikian rupa, sehingga masyarakat merasa ketakutan. 

Apalagi pemberitaan hari ini yang dibesar-besarkan adanya kematian  tenaga medis.  Padahal di tengah masyarakat banyak rakyat yang menjerit di PHK, tidak bisa jualan, tidak bisa bekerja, dan banyak yang kehilangan mata pencaharian.  Padahal mereka butuh makan.  Haaa, gumanku terlalu jauh dari topik Kethek Ogleng.

Tahun 1965 sempat dihentikan beberapa tahun akibat G30 S PKI. Baru tahun 1971 saya disuruh nari di Pendopo Pacitan oleh Bupati Kusnan, ‘tegas Sutiman.

Namun yang terasa bagaimana Kethek Ogleng setelah pandemic Covid-19.  Apakah kita akan kembali mengulangi.  WBTB, Hak Cipta, Hak Paten, publikasi, buku telah mengupas habis Kethek Ogleng selama 2 tahun. Namun belum seberapa jika dibandingkan dengan Sutiman pada awal menciptakan Kethek Ogleng Pacitan.  “Ah Kethek Ogleng akan terus berkembang di hati masyarakat”

Sutiman melanjutkan ceritanya, “Perenungan Sutiman akhirnya memutuskan untuk melihat secara utuh gerak-gerik kera di kebun Binatang Sriwedari Surakarta tahun 1962 (Sutopo.B. dkk,  2018: 20).(4)

Sutiman akhirnya pergi ke kebun binatang Sriwedari di Surakarta yang jaraknya cukup jauh. Imajinasi Sukiman muncul setelah melihat secara langsung aktivitas kera atau monyet di Taman Sriwedari. 

“Nilai kearifan lokal yang tercermin dalam tari kethek Ogleng kebebasan, kerjasama, religiusitas, solidaritas, kerja keras dan kemandirian menjadi modal dasar Kethek Ogleng untuk menapaki tujuannya setelah pandemik”


The research result showed that the local wisdom values are attached into four elements: the dancer, the accompanist, the staging, and the story. First, the dancer represents simplicity, independence, hardworking, cooperation, gratitude, religiosity, sincerity, and patience. Second, the accompanist represents cooperation, solidarity, discipline, hardworking, and self-confidence. Third, the staging represents cooperation, solidarity, hardworking, discipline, and loving nature. Fourth, the story represents simplicity, compassion, solidarity, and religiosity.” (5)

“Terlintas gerakan Kethek Ogleng. Gerak tangan kaki mata mempesona Mengikuti alunan irama yang sahdu. Lentur jemarimu mengayuh selendang. Tatapan wajahmu hai penariku.  Kusruput kopi anganku.  Memori Tahun 80-an. Teringat dalam memoriku.”  Oh penariku! Sutiman teringat waktu masa jayanya dulu teringat pada sosok yang memerankan Endang Roro Tompe yang kini sudah meninggal dunia.

Saat pagelaran berlangsung begitu cerita Sutiman. “Penonton duduk rapi berjajar. Menanti gerakan tarimu.  Terpesona kehebatanmu.  Dalam balutan kebahagiaan. Akan ku kenang dalam hidupku.  Kusimpan dalam lipatan memoriku.  Kupendam. Tak akan terulang kembali menjadi kenangan abadi. Getaran memori masa lalu terbenam oleh senja.  Bulan akan selalu bersinar. Mendung akan membungkus kilauan sinarnya.Cinta hanyalah imajinasi dan ilusi”.

 

OOO

 

Hal ini sama dengan cerita dalam tari kethek Ogleng yang dijadikan sendratari sejak tahun 1970-an untuk menghibur penonton dengan menggabungkan cerita Panji. “Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang saling mencintai dan akan membangun tali kasih percintaan berupa membangun rumah tangga yang bahagia namun tidak diberikan restu dari salah satu orang tuanya pada massa kerajaan Hindu Budha yaitu Kerajaan Jenggala dan kerajaan Kediri sebelum munculnya kerajaan Majapahit.. 

Akhirnya mendengar berita menghilangnya Dewi Sekartaji memutuskan untuk  mencari keberadaan Dewi Sekartaji.  Perjalanan dalam mencari dewi Sekartaji, Panji Asmorobangun singgah di rumah seorang pendeta agama Budha untuk mencari tahu keberadaan sang Putri Sekartaji.

Panji diberi wejangan agar pergi ke arah barat dan dia harus menyamar menjadi kera. Singkat cerita perwujudan dari kera atau monyet (kethek) yang diwujudkan dalam bentuk penari pria dengan riasan yang menyerupai seekor monyet.  

Setelah Endang Rara Tompe naik turun gunung, akhirnya rombongan Endang Rara Tompe, yang sebenarnya Dewi Sekartaji, beristirahat di suatu daerah dan memutuskan untuk menetap di sana,” begitu cerita Sutiman bersemangat.

Ternyata Kethek penjelmaan Panji Amorobangun juga tinggal tidak jauh dari pondok Endang Rara Tompe. Maka, bersahabatlah mereka berdua. Meski tinggal berdekatan dan bersahabat, Endang Rara Tompe belum mengetahui jika kethek yang menjadi sahabatnya adalah Panji Asmorobangun, sang kekasih, begitu juga dengan Panji Asmorobangun, dia tidak mengetahui jika Endang Rara Tompe adalah Dewi Sekartaji”.

Setelah persahabatan antara Endang Rara Tompe dan Kethek terjalin begitu kuatnya, mereka berdua membuka rahasia masing-masing. Endang Rara Tompe merubah bentuknya menjadi Dewi Sekartaji, begitu juga dengan kethek sahabat Endang Rara Tompe. Kethek tersebut merubah dirinya menjadi Raden Panji Asmorobangun. Perjumpaan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun diliputi perasaan haru sekaligus bahagia.

Akhirnya, Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmorobangun sepakat kembali ke Kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB, cukup bagi perjalanan  1,5 jam untuk pulang untuk berbuka puasa.  Akhirnya kami pamitan pulang. ”Akhirnya saya pamit, jalan bebatuan terasa menggonjang isi perutku yang telah kosong.  Jalanan terjal bebatuan selama 20 menit begitu menguras tenaga dan pikiran.  Disebabkan jika tak berkonsentrasi akan jatuh di jurang pegunungan.

Dalam perjalanan pulang saya sampai lupa untuk memberitahukan Sutiman soal Strategi Pelestarian Dan Pengembangan Kethek Ogleng. Nomor permohonan S10201906913, Hak paten (6)

Sambil naik sepeda butut aku menikmati perjalanan pulang ke rumah dari Desa Tokawi.  Tak terasa 1.5 jam aku telah melaju sepeda motorku sampai di rumah saat tinggal beberapa menit untuk berbuka puasa.  Pengalaman yang begitu luar biasa untuk berrcengkerama dengan pencipta Kethek Ogleng masih ada harapan di hari esok setelah pandemic Covid-19. Semoga Covid-19 segera berlalu.

000

 

  1. https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/? penetapan&&list&tab= 1&keywords=kethek+ ogleng+pacitan
  2. https://pdki-indonesia.dgip.go.id/index.php/paten/RlNzWjBvWGNiLzFJQ0JS QXY1Zm5RQT09?q=strategi+pelestarian+dan+pengembangan+kethek+ogleng&type=1&filter_by=
  3. Agoes Hendriyanto, Arif Mustofa, Bakti Sutopo. (2018).) Hendriyanto. Building Ecological Intelligence Through Indonesian Language Learning Based On Kethek Ogleng Dance. Vol 11, No 1 (2018 Https://Ejournal.Upi.Edu/Index.Php/Ije/Article/View/10902.
  4. Sutopo, Bakti, Agoes Hendriyanto, dan Arif Mustofa. (2018). Kethek Ogleng: Kesenian Monumental Asli Tanah Pacitan. Yogyakarta: Ladang Kata.
  5. Agoes Hendriyanto, Bakti Sutopo, Arif Mustofa. (2018). Local Wisdom Values in Kethek Ogleng Dance Tokawi Nawangan, Pacitan. https://www.atlantis-press.com /proceedings  /isseh-18/55915177
  6. https://pacitanku.com/tag/agoes-hendriyanto
  7. https://pacitankab.go.id/kethek-ogleng-era-baru-menjadi-kebanggan-pacitan/





Posting Komentar

0 Komentar