PT.PRABANGKARANEWS MEDIA GROUP

6/recent/ticker-posts

Diterbitkan Oleh:
PT. Prabangkaranews Media Group
Ham: AHU-0011378.AH.01.01.2020
Daftar Perseroan
AHU-0037226.AH.01.11.2020
NPWP: 94.459.273.2-647.000

Letih dan Jaya, By Asih Setiyaningrum

 

Oleh : Asih Setiyaningrum (*)

Lelaki berjas rapi itu tengah berdiri dihadapan kaca besar jendela, sambil menatap betapa indah bunga ditaman itu. Dimana ruangan itu menjadi saksi dan bisunya kehidupan. Baginya ini bukan akhir segalanya, ia hanya menganggap ini sebatas pencapaian yang kebetulan berhasil. Tidak disangkanya, kini ia menjadi sosok terpenting dikantor itu.

"Aaaa huffttt......Sudah berapa lama saya melamun?", sambil menghela nafas dalam batinnya.Dering telepon genggam yang terkantong di jas seakan menyadarkannya bahwa kabar selanjutnya akan siap menanti. Entah apa yang dibicarakan dalam telepon genggam itu, nampak ia sangat cemas sekali. Wajahnya terlihat gundah, muram, dan gemetar. Berita apa yang ia dengar seakan petir disiang bolong. Tidak disangka dan tidak pernah terduga.

00--00

Simfoni Fajar.

Ayam jago sudah bernyanyi bersautan menyambut fajar pagi, dan mitosnya ketika ayam jago berbunyi di jam tiga pagi dini hari konon Malaikat tengah turun ke bumi. Entahlah, baginya jam tiga pagi sudah saatnya ia bangun. Berupaya ia mengumpulkan nyawa dan berdoa, "Alhamdulillah Ya Allah, masih Engkau bangunkan saya di pagi ini dengan keadaan yang sehat",itulah doa yang ia panjatkan ketika bangun dari tidurnya. Lekas itu ia pergi membasuh muka, dinginnya air seakan membekukan wajahnya. Namun siapa sangka, ia sangat menikmati dinginnya air menyentuh pori pori wajah tampannya. Selepas itu, ia ambil sarung yang tergantung di kamar tidurnya. Bergegas ia pergi ke mushola dekat rumah Haji Sopiin.

Hanya butuh waktu kurang lima menit kini ia sampai di mushola pak Haji Sopiin, lalu teranglah mushola itu dengan lampu yang ia nyalakan. Itulah dia, sosok pemuda tampan anak pak Sutan. Sebenarnya warga kampungpun heran dengan sosok pemuda itu, ketika masih banyak pemuda sebayanya  tengah lelap dalam mimpi tidurnya, hanya ia dan satu-satunya pemuda yang menghidupkan terangnya mushola di dini hari. 

000--000

Pemuda itu.

Azwar Sutan, itulah nama pemuda tampan anak pak Sutan. Pemuda yang tengah duduk dibangku kelas 12 SMA Muslimin 1 Lembang. Dia tinggal diujung gang kampung Jati dan Azwar sendiri tinggal hanya bersama pak Sutan serta satu kakak perempuannya. Kakak perempuannya bernama Azma Sarifah.Kakak Azwar sudah bekerja di konveksi. Pak Sutan sendiri hanyalah seorang tukang sapu jalan.Tidak jarang Azwarpun harus membantu ayahnya bekerja selepas pulang sekolah. Pak Sutan sendiri sudah melarang anak lelakinya itu untuk fokus Ujian dan sekolahnya, namun Azwar sangat kukuh untuk membantu ayahnya. 

"Sudahlah nak, kau pulang saja ini bukan tugasmu!", begitulah yang selalu pak Sutan ucapkan untuk melarang anaknya. "Ayah, biarkan saya membantu ayah menyapu dan setelah saya membantu ayah saya akan pulang", ujar Azwar. Apa boleh buat, pak Sutan tidak bisa menolak anaknya untuk membantunya, toh sejatinya seorang lelaki harus bekerja keras. 

0000--0000

Memori Relung hati.

Oktober, bulan ini selalu mengingatkan Azwar akan sosok ibunya yang telah tiada. "Di tanggal ini, bulan ini, dan ini sudah genap tiga tahun ibu tiada. Mengapa ibu pergi secepat ini dan ibu meninggalkan ku tepat dihari kelahiran ku?", gumam pemuda itu tatkala melihat kalender yang disampingnya ada foto ibunya. "Nak, ayo kita berangkat", seru pak Sutan. Sudah menjadi hal yang terbiasa bagi Azwar untuk pergi berziarah ke makam ibunya.

Masih terbayang jelas kejadian itu dibenaknya, saat seorang ibu tengah menolong nenek paruh baya menyebrang jalan. Namun na'asnya sesaat berbalik arah untuk menyebrang jalan kembali, seorang ibu itulah justru yang tertabrak motor yang melaju kencang diiringi truk yang membawa kayu. 

"Seandainya waktu bisa diulang, saya saja yang menyebrangkan nenek itu,dan bukan ibu. Saya mengingat kejadian itu membuat pilu hati saya dan pikiran saya, ayah", air mata pun menetes dari mata indah pemuda itu. "Berucap seperti itu justru akan membuat rasa bersalah akan selalu ada, kita ini manusia tak ubahnya juga akan mengalami ketiadaan di dunia ini. Mau sekeras apa pun kita menuntut kepada Tuhan, yang telah pergi tiada kembali dan tak akan datang lagi. Hanya satu yaitu ikhlas dan mendoa yang terbaik",begitulah kalimat penenang dari pak Sutan untuk Azwar.

00000--00000

Keluarga China baru.

Akhirnya kelulusan yang di nantipun tiba, wajah semarak gembira siswa dan wali muridpun menjadi pemandangan indah. Tidak luput juga sosok pemuda berkulit putih, bermata indah Arab itu. "Alhamdulillah, alhamdulillah, semua nilai dan kelulusan saya sebagai siswa terbaik ini juga tidak luput dari kerja keras dan letih ayah", gumam Azwar dalam perjalanan pulang dari sekolah. Kabar yang dibawa Azwar bagi pak Sutan adalah hadiah terhebat dalam hidupnya. Tidak menyangka bahwa ia memiliki seorang anak yang sholeh, pintar dan berbakti padanya. Malam pun menjelma bagai pengekang jeruji borgol penjara. Mau tidak mau ia harus mengutarakan niatnya untuk pergi belajar ke ITB.

Pak Sutan paham akan pentingnya pendidikan apalagi untuk anak lelakinya. Berbeda dengan anak perempuannya yang lebih memilih merawat pak Sutan. Kini pak Sutan paham akan kemana. Bergegas ia pergi ke rumah keluarga China kaya itu. Tanpa disadari ayahnya, Azwar sebetulnya paham apa  yang ia utarakan tadi malam akan menjadi beban dipikiran sang ayah. Bergegas ia mengikuti sang ayah pergi. Sampailah di daerah elit perumahan. "Rumah Wang Yien, apa ayah akan meminjam uang disini, ini tidak bisa dibiarkan. Saya memang ingin melanjutkan sekolah tinggi tapi tidak harus merepotkan ayah untuk meminjam disini", ujar Azwar.

"Apa kamu tahu Sutan, jika kau sampai telat membayar hutang pinjaman mu!. Maka, aset tanah mu akan menjadi milikku, aku dengar kau juga memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik itupun akan menjadi jaminannya. Wahai Sutan apa kau dengar!",gertak lelaki tua yang kerap dipanggil Wang Yien."Kau boleh ambil aset tanah ku tapi tidak anak gadisku". "Apa-apaan kau ini, kau sudah meminjam tapi jaminan mu hanya sepetak tanah untuk uang ku, dasar bedebah keparat!!". 

Pak Sutan tentu saja menolak syarat ke dua yang harus melibatkan Azma dalam hal ini, tentu ia tidak bisa dan tak akan menjadikan putrinya korban. Karena melihat diamnya pak Sutan, Wang Yien tidak segan melancarkan pukulan tongkatnya, hingga menimbulkan memar di dahi pak Sutan. Mendengar keributan didalam rumah megah itu, Azwar bergegas mendobrak paksa pintu tersebut tanpa permisi. "Apa yang kau lakukan kepada ayah saya lelaki tua, apa  karena kami miskin kau orang berpunya lantas kau berani pukul ayah saya, hah!.Ingatlah, saya bisa sukses dan membanggakan ayah saya tanpa pinjaman uang dari orang China seperti mu, mari ayah kita pergi", gertak Azwar kepada seisi ruangan itu. 

000000--000000

Kejayan dan ikhlas.

Kini Azwar sadar bahwa usaha dalam diri adalah modal keberhasilan yang utama,sebisa mungkin sesuatu itu harus dikerjakan mandiri dan jangan terlalu bergantung kepada orang lain. Kejadian beberapa tahun lalu ketika sang ayah diperlakukan tidak manusiawi masih membekas dalam ingatan Azwar. Sang ayah adalah sosok pahlawan bagi kesuksesan anaknya dan pak Sutan paham bahwa anaknya adalah sosok yang sangat kuat dan gigih. Setelah menyelesaikan belajar di ITB, kini Azwar memiliki sebuah ritel suku cadang alat berat terbesar di kota Bandung. 

Namun, kesuksesan Azwar harus berakhir pilu dan sendu yang mendalam. Sosok pahlawan itu telah pergi untuk selama lamanya, dan kini ia hanya bersama sang kakak membangun masa depan masing masing diri. Yang berawal itu letih, pahit, dan sukar. Tapi percayalah, masih ada kejayaan bagi yang berusaha. Seperdetik itulah termaknai dengan keikhlasan. "Terima kasih ayah atas perhatian ayah pada saya, dan maafkan Azwar belum bisa membahagiakan ayah dan ibu waktu di dunia",itulah kalimat terakhir Azwar dipusara makam sang ayah dan ibunya. 

(*) Mahasiswa PBSI STKIP PGRI Pacitan

Posting Komentar

0 Komentar